Selasa, 15 Maret 2011

KETIKA MENULIS BUKAN SEKADAR HOBI

Kadang-kadang saya merasa kurang enak di hati dikatakan bahwa menulis (fiksi, maksud saya di sini), hanya sekadar hobi. Karena hobi, maka bisa dimuat di sebuah media saja sudah puas dan senang. Seolah-olah, begitu tulisan dimuat, langsung berjingkrak-jingkrak kegirangan. Sampai lupa daratan. Sampai seolah-olah tidak menginjak daratan.

Pendapat demikian tidak salah. Tapi itu dulu.

Atau mungkin Anda sudah cukup puas kalau tulisan Anda dimuat di sebuah media? Anda sudah puas tanpa mempersoalkan diberi imbalan atau tidak atas tulisan Anda? Anda puas dan bahkan mungkin Anda menolak honor karena Anda merasa kurang idealis kalau mau menerima honor?

Sekarang situasinya beda. Kedaannya berbeda. Dulu masih lajang. Oke, no problem. Kalau sekarang? Pada saat kita sudah berkeluarga. Apa mungkin kita hanya puas tulisan kita dimuat tanpa mendapatkan apa-apa?

Intinya begini, menulis, entah saat Anda belia, muda, dewasa, setengah tua, atau mungkin sudah renta, sudah saatnya dijadikan pekerjaan. Ya..., pekerjaan. Aneh? Tidak! Di KTP saya sudah puluhan tahun tertulis pekerjaan: Penulis.

Artinya, karena menulis adalah pekerjaan, seorang penulis mesti dihargai hasil kerjanya dengan honor yang memadai. Memadai ini artinya apa? Wah..., kalau untuk pertanyaan yang ini saya tidak bisa menjawab secara panjkang lebar. Karena kalau sudah bicara masalah fulus, kadang-kadang timbul ketegangan :). Dan itu wajar.Yang jelas, antara penulis dengan pihak yang membutuhkan penulis ada kode etik yang intinya tahu-sama-tahu, saling menghargai, dan saling menerima dan memberi. Pokoknya tidak ada yang dirugikan.

Sudah saatnya menulis bukan sekadar hobi, tetapi menulis adalah pekerjaan yang mulia, dan tidak kalah bergengsinya dibandingkan dengan pekerjaan lain.

0 komentar:

Poskan Komentar