| Edisi : Minggu, 19 Juni 2011 , Halaman : IV |
| Sandera Sandra |
| Mau ke mana, kau Sandra?” tanya Wulan, Ibu tiri Sandra. ”Pergi,” jawab Sandra dengan nada ketus. ”Iya, mau pergi ke mana?” ”Ke rumah teman.” ”Teman yang mana?” |
| ”Kau nggak perlu mencampuri urusanku. Aku sudah dewasa. Bukan gadis bau kencur yang mestinya ditanya ini-itu ketika mau pergi.” ”Sekarang kan sudah malam. Nanti kalau Ayahmu tanya, bagaimana menjawabnya?” ”Ya, sudah, jawab saja apa adanya, Sandra mau ke rumah teman, titik! Ah... umurmu ini setahun lebih tua dari aku saja, bawelnya seperti nenek-nenek!” Sandra langsung meninggalkan Wulan yang masih duduk di ruang tamu sambil nonton tayangan televisi. Televisi adalah teman setia Wulan, istri Tuan Soe Gih. Sebagai istri seorang konglomerat besar, Wulan sering berada di rumah sendirian. Tuan Soe Gih sering keluar kota. Bahkan tidak jarang keluar negeri. Untuk mengusir kesepiannya, dia selalu menghidupkan televisi sebagai teman yang paling setia. Sandra, anak tirinya yang masih kuliah, tak lebih dan tak kurang adalah musuh bebuyutan bagi Wulan. Entah apa sebabnya, Wulan sendiri tidak tahu. Sejak dirinya menikah dengan Tuan Soe Gih, Wulan langsung memusuhinya. Di ujung lain, dalam perjalanan pulang dari kantor, Tuan Soe Gih masih memikirkan tentang konflik tak ada ujung antara Sandra dengan Wulan. Ketika turun dari mobil, rasanya Tuan Soe Gih malas memasuki rumahnya sendiri. Di dalam rumah megah dan mewah itu ada dua perempuan yang tidak akur. Kedua perempuan itu sama-sama dicintai Tuan Soe Gih. Satu dicintai sebagai istri, satunya dicintai sebagai anak tunggal. Wulan menyambut suaminya dengan penuh rasa cinta. Walaupun terpaut berpuluh-puluh tahun, tetapi Wulan sangat cinta pada Tuan Soe Gih. Walaupun sampai sekarang belum punya keturunan, Wulan tetap cinta kepada Tuan Soe Gih. Baru saja Tuan Soe Gih ganti pakaian, telepon di ruang tamu berdering. Wulan yang mengangkat telepon itu. Wajahnya terlihat pucat. Dia segera menyerahkan gagang telepon itu kepada Tuan Soe Gih. ”Halo... dari siapa ini?” tanya Tuan Soe Gih. ”Tuan Soe Gih tidak perlu mengetahui siapa saya,” kata Tong Phez dari seberang sana. ”Sandra telah berada di tangan saya. Besok tengah malam serahkan uang seratus miliar pada saya di halte tua batas kota. Tuan Soe Gih harus datang sendirian. Kalau Tuan Soe Gih datang bersama orang lain, Sandra akan saya bunuh!” ”Ba...baiklah... saya akan ikuti kata-kata Anda. Yang penting jangan sakiti Sandra! Dia anak saya satu-satunya,” kata Tuan Soe Gih dengan suara gemetar. **** Halte tua, batas kota, lewat tengah malam. Sebuah mobil hitam terparkir. Ada tiga penumpang dalam mobil itu. Sandra, Tong Phez dan Jie Red. Sandra sebagai sandera tidak diikat ataupun diborgol karena sejak ditangkap sudah menunjukkan sikap mau berdamai dengan dua penculiknya. Walaupun Sandra menunjukkan sikap baik, Jie Red tetap menodongkan pistolnya sejak berangkat dari persembuyian tadi. Tak lama kemudian Tuan Soe Gih datang. Dia naik mobil mewah warna merah. Dia memarkir mobilnya agak jauh dari mobil hitam. Tuan Soe Gih langsung turun dari mobil dan berjalan menuju halte tua. Dua tas besar di bangku halte. Dia menunggu para penculik menghampirinya. Perasaannya tidak enak. Secara nalurilah, dia menduga akan terjadi sesuatu di luar perhitungannya. Tong Phez dan Jie Red membawa Sandra keluar dari mobil hitam. Tong Phez berjalan paling depan. Disusul Sandra dan Jie Red. Jie Red berjalan paling belakang dengan tetap menodongkan pistol pada Sandra. ”Ini tebusan yang kalian minta,” kata Tuan Soe Gih kepada dua penculik itu. Jumlahnya seperti yang kalian inginkan. Kalau tidak percaya, silakan kalian periksa!” Tong Phez mengambil lampu senter dari saku jaketnya. Dia membuka dan menerangi isi dua tas Tuan Soe Gih. Dia tak perlu menghitung, yang penting uangnya asli, bukan palsu. ”Oke...” kata Tong Phez. ”Tuan Soe Gih boleh ambil anak tuan! Aku ambil dua tas ini. Jie Red, jangan todongkan senjata pada Sandra lagi! Biarkan dia kembali kepada Tuan Soe Gih.” Jie Red mengikuti kata-kata Tong Phez. Pada saat Jie Red tidak menodongkan pistolnya pada Sandra, Sandra bergerak cepat. Sandra mencabut pistol dari balik jaketnya. Pistol ditempelkan ke dada kiri Jie Red. Pelatuk ditarik. Sebuah peluru menembus dada, menghancurkan jantung Jie Red. Jie Red tewas seketika. Tubuhnya tergeletak di tepi jalan raya. Tong Phez mau mencabut pistolnya yang terselip di pinggang. Namun dua tembakan Sandra menembus dadanya. Tong Phez pun sekarat. Tubuhnya terkapar di atas aspal. Sandra mendekati Tong Phez dengan langkah tenang. Dia todongkan pistolnya ke wajah Tong Phez. ”Sebelum kamu mati, dengarkan kata-kataku ini dengan cermat!” kata Sandra. ”Yang nyuruh kamu untuk menculikku adalah aku sendiri...” Satu tembakan lagi menembus kepala Tong Phez. Membuat Tong Phez tak bergerak lagi untuk selama-lamanya. Sandra menyimpan pistolnya di balik jaket yang dia pakai. Dia mengambil pistol Jie Red yang tergeletak tak jauh dari mayat tuannya. Dengan pistol Jie Red itu, Sandra menembaki Tuan Soe Gih dengan tiga kali tembakan sekaligus! Tuan Soe Gih terbelalak kaget. Dia tak menduga sama sekali Sandra melakukan kekejian itu. Tubuh Tuan Soe Gih limbung dan terjerembab di trotoar. Dia tergeletak di atas trotoar dengan napas satu-satu. Dadanya tertembus tiga peluru dari pistol Jie Red yang ditembakkan Sandra. Sebelum ajal menjemput, dia mendengar lamat-lamat suara Sandra. ”Aku melakukan ini karena aku sudah tahu segalanya tentang kamu, Tuan Soe Gih!” kata Sandra. ”Kamu telah membunuh kedua orang tuaku karena cintamu ditolak ibuku. Kamu merancang pembunuhan dengan cara seolah-olah itu kecelakaan lalu lintas. Jupri, sopirmu, bercerita banyak tentang hal itu. Setelah kedua orang tuaku meninggal, kamu mengadopsiku sebagai bentuk ungkapan cintamu pada ibuku. Oh ya... kamu sebenarnya ingin punya anak, tetapi dua istrimu terdahulu tidak bisa memberimu anak. Maka mereka kamu bunuh denga rekayasa kecelakaan. Kamu ini egois, Tuan Soe Gih. Kamu yang mandul, bukan mereka. Buktinya, Wulan tidak bisa hamil. Padahal Wulan itu perempuan subur. Kalau Wulan nanti tidak bisa memberimu keturunan, paling-paling juga akan kamu bunuh.” Sandra berdiri mengangkang dekat tubuh Tuan Soe Gih yang sekarat. Pistol teracung mengarah dada Tuan Soe Gih. Sandra berkata, ”Jadi yang kulakukan ini bukan kekejaman, Tua Soe Gih. Hutang nyawa dibayar nyawa...” Satu tembakan lagi membuat tubuh Tuan Soe Gih terdiam dan beku. Sandra segera meletakkan pistolnya digenggaman mayat Tuan Soe Gih. Gadis itu mendekati mayat Jie Red. Dia tembakkan satu peluru ke lengan kirinya dengan menggunakan pistol Jie Red. Lalu dia letakkan pistol Jie Red digenggaman mayat tuannya. Buru-buru Sandra menelpon pihak berwajib. Dia menjatuhkan tubuhnya dekat mayat Tuan Soe Gih. Dia pejamkan mata. Dia pura-pura pingsan... Bumi Tegalan, awal April 2011 - Oleh : suwito sarjono |
Sumber:
http://edisicetak.solopos.com/berita.asp?kodehalaman=m10&id=116110
NB.:
Ingin tahu VERSI ASLINYA (belum diedit/dipotong pihak editor) cerpen tersebut di atas?
Klik:
http://suwitosarjonoo.blogspot.com/2011/06/sandera-sandra-dimuat-di-solopos-19.html
atau
Klik di sini

